Berita Utama Kiprah Santri

Ajakan Alumni santri Sidogiri Hentikan caci maki

Pasuruan (suarasantri.net) 22/4

Seminar dalam rangka memperingati 282 ponpes sidogiri kraton Pasuruan . selain mengundang 3 organisasi pembicara. nasional.(NU.Muhamadiyah.dan FPI. Alumni santri ponpes Sidogiri membacakan seruan sajak sebagai berikut :

Teguh teduh bersaudara akan menguap hanya jadi mimpi, tidak akan pernah terealisasi, jika masing-masing pihak bertahan dengan ego pribadi; merasa paling benar sendiri. Merasa paling amar makruf nahi munkar atau paling NKRI. Merasa paling pancasilais atau paling Islami. Apalagi disertai arogansi, di-akutkan dengan fanatesme kelompok yang membumbung tinggi.

Jika ada syubhat mari duduk berdiskusi. Jika ada kabar abu-abu mari lakukan klarifiksi. Jika ada peristiwa gaduh mari adakan investigasi. Jika ada salah-khilaf mari mohon maaf dan instropeksi, bukan jungkir-balik melakukan justifikasi, berjibaku menyusun narasi, mencari padanan-padanan memaksakan sebagai tendensi. Jika sudah adem tak perlu dipanasi lagi, termasuk dengan aksi bela-bela dan demonstrasi.

Maka saatnya kita saling mewasdiri. Satu mimpi satu barisan kita jadikan visi misi. Ormas-ormas islam mulai NU, Muhammadiyah, Persis, hingga FPI. Mari saling bersinergi, menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI, bukan saling memusuhi, meski beda sisi tapi masih dalam limit toleransi. Tunjukkan bahwa kita mencintai negeri ini. Kita menerima NKRI meski tak semuanya teriak NKRI harga mati. Kita terima pancasila sebagai dasar negeri. Keberadaan negeri ini telah diakui dan diijtihadi. Para ulama panutan kami mengamini. Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahhab, Kiai Ahmad Dahlan, termasuk para masyayikh Sidogiri. Kecintaan pada tanah air tak perlu diajari apalagi diragukan dan dicurigai.
i
Sosial media bukan tempat meluapkan emosi. Tindakan ini sama sekali tak memberi solusi. Malah semakin memperkeruh situasi. Membuka celah pihak lain tuk mengadu dua sisi. Jadi alat untuk melakukan provokasi. Membuat kegaduhan makin sulit teratasi. Karena Selalu ada pihak yang tak ingin umat Islam bersinergi.
Dari itu,
Mau berbatik silahkan, tanpa mencemooh yang bergamis dan bersorban. Mau dakwah ala Wali Songo silahkan, tanpa nyinyir yang ingin hizbah amar makruf dan berantas kemunkaran. Yang keras jangan menghujat yang ingin menonjolkan keramahan. Yang lembut jangan salahkan yang ingin tampakkan ketegasan. Keras mengikuti Umar dan Ali sebagai teladan. Lembut mengikuti langkah Abu Bakar dan Utsman. Hormati perbedaan.

Ibarat sepakbola masing-masing pemain punya peranan. Striker menjebol gawang lawan, Playmaker membuka serangan, Sayap memberi umpan, Bek memperkuat pertahanan, dan keeper menjaga gawang agar tak kebobolan. Semuanya bersinergi berketeraturan. Tak boleh saling menyelahkan. Lucu kalo Striker merasa paling benar menyuruh keeper maju ke depan. Meski kadang ada saat-saat darurat yang mengharuskan bek maju atau striket bertahan. Jika semua pemain egois maka permainan akan berantahkan. Yang didapat adalah kekalahan. Musuh tersenyum sedang kita menelan kekecewaan.
Kontestasi politik selalu melahirkan ketegangan. Apalagi jika dibarengi fanatisme berlebihan. Beda pilihan melahirkan beda sikap dan pandangan. Antar kerabat tiba-tiba ada kerenggangan. Sesama sahabat jadi hilang kehangatan. Caci maki tak terelakkan. Saudara seiman seolah hendak perang saling berhadap-hadapan. Kebablasan mendukung melahirkan kebencian. Mewujudkan permusuhan. Akal sehat kalah dengan emosi yang meledak demi membela junjungan.

Sesekali kita butuh menoleh pada fakta sejarah sebagai catatan, Sebagai bahan instropeksi untuk pembenahan. Cukuplah sebagai pelajaran, cekcok antara sahabat muhajirin dan ansor di Saqifah Bani Saidah yang tak terelakkan. Bahwa, politik selalu menjadi pemicu keretakan. Bahwa, fanatisme kelompok menyebabkan perpecahan. Bahwa, ketika membucah egoisme ke-akuan, saat itulah akan terkoyak persatuan.

Jangan korbankan persaudaraan hanya karena beda pilihan. Jangan biarkan hubungan dingin membeku gara-gara konflik lima tahunan. Mari hadapi perbedaan dengan elegan. Jauhi hujatan, cacian, dan hinaan. Cebong dan kampret adalah nama hewan. Sangat tidak elok digunakan sebagai sapaan. La siyama untuk panggilan kepada seudara sebangsa apalagi seiman. Saatnya kubur dalam-dalam hapus dari ingatan.

Akhiran, kami para panitia tentu memiliki banyak kekurangan, memiliki banyak keterbatasan, serta memiliki banyak kekhilafan. Karena demikian, seandainya ada hal-hal yang kurang berkenan, dari keseluruhan hal yang kami persembahkan, berjuta maaf kami haturkan.

Akhirul kalam, wallahul muwafiq ila aqwamit tariq, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…. Ali wafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *